Perajin enceng gondok Budiman menekan batang menjadi lembaran datar dengan mesin press di rumahnya Jumat (13/3/2021). (TITIS ANIS FAUZIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tanaman enceng gondok yang memenuhi permukaan Rawa Pening, mampu dimanfaatkan Budiman untuk mengais pundi-pundi rupiah. Tanaman gulma itu dijadikannya sebagai bahan kerajinan.

Awalnya, warga sekitar mulai dari Tuntang dan Banyubiru, termasuk Budiman, hanya sebagai petani enceng gondok. Hasilnya dijual ke pengusaha luar kota. Pada 1995 ia penasaran, untuk apa para pengusaha luar kota itu mencari enceng gondok hingga puluhan ton.

Budiman pergi ke Jogjakarta dan Cirebon. Lalu mendapati hasil tani enceng gondoknya disulap menjadi kerajinan dan perabotan cantik. Saat itu muncul gagasan untuk mempelajari pembuatan kerajinan. Tahun 1994 ia belajar memproduksi perabotan rumah seperti kursi dan meja.

“Kenapa saya harus susah-susah cari enceng gondok saja kalau ternyata bisa dibuat kerajinan yang lebih bernilai,” ungkapnya sembari menggilas batang enceng gondok kering dengan mesin pres menjadi lembaran tipis siap anyam.

Pria kelahiran 1964 itu, tergolong yang mengawali produksi kerajinan di kawasan tersebut. Kini ia satu-satunya yang masih bertahan sejak awal. Perjalanan menjadi perajin tak pernah mudah. Sekitar awal 2000 Budiman sempat ditipu pembeli furniture. Pesanan yang sudah digarap ditinggal kabur. Dia memutuskan untuk beralih produksi perkakas home decor seperti tas, sandal dan tempat tisu yang lebih minim risiko.

Meski demikian ia tetap memproduksi furniture bila ada pesanan dari perusahaan besar. Beberapa kali Budiman dipanggil ke Sumatera untuk membuat set kursi dan meja kantor. Bahkan saat ini dia dipanggil ke luar pulau untuk mengisi pelatihan sebagai praktisi peraji enceng gondok.

Pada 2010 Budiman mengetuai Paguyuban Pengrajin Enceng Gondok. Kala itu ia membawahi enam kelompok. Masing-masing terdiri dari 13 perajin. Karena kurangnya inovasi dalam produksi dan bisnis, penjualan menurun. Satu demi satu mundur dan berhenti lantaran kerajinan yang dihasilkan tak dapat memenuhi kebutuhan hidup.

Budiman pun sama, ia menjadi buruh untuk menghidupi keluarga. Kerajinan tetap dikerjakan di waktu malam untuk penghasilan tambahan. Ia mengaku tak pernah bosan berkutat dengan lembaran enceng gondok kering.

Hingga akhirnya 2019 Budiman dipertemukan dengan pendiri usaha Bengok Craft, Firman Setyaji. Kolaborasi dan kerja sama mereka berbuah manis.

“Setelah kerja sama Mas Aji (Firman Setyaji) saya sering dapat permintaan desain yang unik dan tak pernah terpikirkan untuk saya buat. Ini jadi tantantang tersendiri bagi saya. Saya jadi merasa belajar lagi, dan saya suka itu,” jelas warga Tuntang itu.

Setelah 25 tahun lebih menjadi perajin enceng gondok dan merasa stagnan, kini Budiman merasa hidup kembali. Jiwa seniman sejati tersalurkan dengan baik setelah menggarap desain unik dan beragam. Ia memperoleh kepuasan tersendiri saat bisa merealisasikan desain sesuai keinginannya. Topi, totebag, keranjang, box, gelang, vas, kaos dengan berbagai odel pernah dibuatnya.

Keberlanjutan produksi pun diimbangin dengan inovasi. Market place dan media sosial Bengok Craft konsisten membagi konten produk dan up to date. Setiap bulan pihaknya juga rutin mengeluarkan desain produk baru dengan jumlah terbatas. Hal tersebut yang membuat Budiman senang bekerja sama dengan Aji. Pengrajin dapat terus belajar dan berinovasi dengan desain baru.

Bahkan akhir tahun lalu Bengok berhasil melakukan ekpor produk pertama ke luar negeri. Empat buah box berukuran sedang dikirim ke Itali. Pelatihan yang diperoleh dari Kemetrian Dagang (Kemendag) 2020 lalu terbukti tak sia-sia.

Berbagai pameran yang diikuti Aji kerap mendatangkan turis-turis manca negara ke ruamhnya. Mereka penasaran produksi kerajinan dan ingin melihat langsung. Tak jarang Aji membawa turis tersebut ke rumah Budiman. Warga sekitarnya sudah tak heran bila ada bule datang, pasti berkunjung ke rumahnya.

“Ilmu saya memang hanya enceng gondok, tapi orang-orang datang dari jauh sangat menghargainya,” terang Budiman saat menceritakan bule-bule dan peengunjung yang datang ke rumahnya.

Transaksi penjualan tercatat sekitar 30-40 per bulan. Rata-rata omzetnya sekitar Rp 12 juta. Pernah sekali dalam sebulan Bengok memperoleh Rp 20 juta. Karena termotivasi, pada 2021 pihaknya menargetkan peningkatan sebanyak 50 persen dari omzet normal bulanan.

“Berkembang bersama produk lokal memang perlu proses dan memakan waktu. Tapi memiliki kebanggaan tersendiri. Sudah membantu warga sekitar, menarik minat wisata daerah juga,” tegas Aji. (cr1/zal)

Artikel ini telah tayang di :
https://radarsemarang.jawapos.com/berita/jateng/ungaran/2021/03/15/awalnya-petani-enceng-gondok-kini-kerajinannya-laku-di-itali/

Copyright © Radar Semarang Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *