Miris dengan kondisi Rawa Pening, Firman Setyaji mengajak masyarakat untuk membangun usaha berbasis kerajinan dari gulma air, eceng gondok. Harapannya, selain menyelamatkan ekosistem Rawa Pening, juga untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat sekitar.

Inibaru.id – Kreativitas memang nggak mengenal batas. Bahkan, gulma yang dianggap merugikan pun bisa menjadi barang-barang berkelas di tangan-tangan terampil dengan kepala penuh ide. Hal ini seperti yang dilakukan Firman Setyaji.

Merasa prihatin dengan kondisi Rawa Pening yang tertutup eceng gondok, lelaki 29 tahun ini berpikir, usaha apa yang bisa dilakukan. Hingga, tercetuslah ide membuat kerajianan dari tumbuhan air tersebut agar bernilai jual.

“Waktu kecil, banyak orang yang cari ikan di Rawa Pening. Nah, pas balik ke sini lagi, saya miris lihat rawa yang hampir nggak kelihatan airnya. Isinya eceng gondok semua,” kenang Aji, sapaan akrabnya, saat ditemui di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Minggu (30/8/2020) sore.

Pada saat yang sama, alumnus Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia ini juga menyayangkan kondisi masyarakat yang menurutnya stagnan. Aji menuturkan, sebagian masyarakat di sekitar Rawa Pening telah sejak lama jadi petani eceng gondok, tapi dengan bayaran yang murah.

Nah, dari sinilah Aji mendirikan usaha kerajinan eceng gondok yang dia namai Bengok Craft. “Bengok” merupakan sebutan warga setempat untuk eceng gondok. Dalam menjalani bisnis, dia menggandeng masyarakat sekitar.

“Saya harap, (usaha) ini bisa mengembalikan Rawa Pening ke keadaannya semula, juga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar,” tutur lelaki yang selalu terlihat santai ini.

Firman Setyaji ( CEO Bengok Craft )
Harga Terjangkau, Kualitas Memukau

Nggak kurang dari 70 jenis kerajinan eceng gondok telah ditelurkan Bengok Craft, mulai dari gelang, tas, pembungkus hp, buku, hingga perabot rumah tangga. Harganya pun beragam, dari puluhan hingga ratusan ribu.

“Kami hadir dengan harga yang terjangkau, tapi kualitas tetap oke,” ungkapnya, “Harga terendah gelang, kalau yang termahal, sih, biasanya (kerajinan) yang custom, Mas.”

Firman Setyaji ( CEO Bengok Craft )

Barang custom, lanjutnya, dibanderol cukup mahal lantaran dia harus trial and error dulu minimal tiga kali, baru berani produksi.

“Dulu, yang paling mahal custom karpet dua meter. Harganya Rp 750 ribu,” aku Aji, lalu menambahkan bahwa dari segi harga, Bengok Craft lebih banyak menyasar kalangan menengah ke atas.

Kendati demikian, Aji mengaku pengin membentuk pasar sendiri dengan Bengok Craft. Menurutnya, kalau ikut pasar yang sudah ada dengan hanya membuat perabotan rumah tangga, dia akan kalah saing dengan pengrajin lain yang sudah lebih dulu memanfaatkan eceng gondok.

Dilirik Pasar Internasional

Selain pasar lokal, usaha yang baru dijalani Aji selama dua tahun ini belakangan sudah mulai dilirik pasar internasional. Saat ini, Bengok Craft tengah menerima pesanan berupa tas dan sandal dari Italia.

Menerima pesanan dari luar negeri, menurutnya, bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang harus diurus untuk mengekspor barang. Kendati demikian, dirinya mengaku memberanikan diri untuk menerima pesanan dalam upaya mengembangkan usahanya.

“Kalo problem, banyak. Tapi, kan kalau nggak berani ngambil ya kita nggak akan berkembang,” tuturnya, lalu menyesap kopi.

Firman Setyaji ( CEO Bengok Craft )

Lantaran baru dua tahun, Bengok Craft saat ini belum memiliki galeri sendiri. Namun, dia berencana memilikinya suatu saat, agar ada etalase untuk memajang produk-produk tersebut, sekaligus melakukan transaksi.

Nah, untuk kamu yang tertarik atau kepo dengan kreasi Aji, silakan kunjungi “galeri” virtualnya di Instagram @bengokcraft. Yakin deh, kamu bakal menemukan barang-barang berkualitas untuk menunjang fesyen sehari-harimu. (Bayu N/E03)

Tulisan @bayunir disadur dari sumber :

https://www.inibaru.id/pasar-kreatif/bengok-craft-upaya-kembalikan-ekosistem-rawa-pening-dengan-ubah-gulma-jadi-berguna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *